BABAK BARU IMPLEMENTASI REVOLUSI MENTAL KARAKTER BANGSA MENUJU RESTORASI SOSIAL YANG BERBASIS KESETIAKAWANAN SOSIAL UNTUK INDONESIA SEJAHTERA

Kementerian Sosial pada 7 Mei 2015 menyelenggarakan kegiatan Seminar Kesetiakawanan Sosial dengan tema : “Revolusi Mental Karakter Bangsa dari Perspektif Kesetiakawanan Sosial Menuju Restorasi Sosial Indonesia.”

Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut antara lain : Dr. Saleh Partaonan Daulay, M.Ag., M.Hum.,M.A. (Ketua Komisi VIII DPR-RI), Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, (Akademisi), dan Yudi Latief, P.h.D.(Ketua Harian Pusat Studi Pancasila, Universitas Pancasila).

Revolusi memiliki makna sebagai perubahan yg cukup mendasar dalam suatu bidang. Pada masa perang kemerdekaan, para Pahlawan kita telah berjuang keras untuk lepas dari pasungan tak kasat mata berupa mental rakyat terjajah, mereka melakukan revolusi untuk memutus mata rantai mental budak yang membelenggu, menegakkan rasa percaya diri dan martabat sebagai Bangsa yang Merdeka.

Pada masa kini, belenggu tak kasat mata tersebut masih melingkupi Bangsa ini dan sudah mencapai tahap yang akut seperti mental priyayi, mental orang miskin, mental gelandangan pengemis, mental individualis dsb., sehingga Pemerintah memandang perlu untuk melakukan Revolusi Mental, dan ini menjadi permasalahan kita bersama.

Revolusi adalah sebuah proses yang perlu dipersiapkan. Kementerian Sosial telah mengawali proses ini sebagai langkah persiapan jalannya revolusi.

Mental bertautan dengan batin dan karakter manusia. Kesetiakawanan Sosial merupakan karakter unggul bangsa Indonesia (Bernilai). Hakikat revolusi mental adalah “mengembangkan nilai-nilai”.

Kegiatan yang laksanakan ini merupakan upaya untuk membumikan Nilai-nilai Kesetiakawanan Sosial, dari nilai-nilai ideal menjadi nilai-nilai aktual yang mudah untuk di implementasi dalam kehidupan sehari-hari dan dapat direplikasi ke dalam bentuk-bentuk aksi-aksi nyata yang bermanfaat bagi Masyarakat.

Restorasi bermakna pengembalian atau pemulihan kepada keadaan semula. Kesetiakawanan sebagai modal sosial sudah ada ditengah kehidupan masyarakat Indonesia, modal sosial ini bersifat dinamis sehingga perlu secara terus menerus dirawat, dijaga, dipupuk, dan didayagunakan, sehingga proses degradasi terhadap modal sosial kesetiakawanan yang menjadi penyebab munculnya kesenjangan (gap) dalam kehidupan sosial kemasyIMG_1871arakatan dapat kita cegah sejak dari hulu.

Masih menjadi bagian dari kegiatan tersebut sekaligus telah ditandatangani MOU tentang Pengembangan Model Desa Sejahtera Mandiri, antara Kementerian Sosial RI dengan 14 Perguruan Tinggi.

Program membangun Desa Sejahtera Mandiri adalah juga merupakan wujud implementasi nilai-nilai dasar Kesetiakawanan Sosial. Semangat dalam membangun Desa Sejahtera Mandiri menggunakan prinsip-prinsip dari spirit nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang berakar dan tumbuh dari kearifan lokal, budaya masyarakat.

MOU ini dimaksudkan untuk memberikan penguatan akademis sekaligus memberikan ruang seluas-luasnya kepada para mahasiswa dan akademisi terjun langsung dalam laboratorium pengabdian masyarakat untuk menerapkan wawasan keilmuannya dalam aksi-aksi nyata di Masyarakat.

Langkah yang ditempuh oleh Kementerian Sosial pada hari ini merupakan tonggak baru dalam membumikan Kesetiakawanan Sosial agar mudah di implementasi menjadi gerakan bersama dan memberikan faedah seluas-luasnya bagi masyarakat.

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *