SANTIAJI KARAKTER BANGSA (PEMBENTUKAN SATUAN TUGAS KESETIAKAWANAN SOSIAL DI SUKABUMI – JAWA BARAT DAN SERANG-BANTEN)

_DSC0127

Kegiatan Peserta Santiaji Karakter Bangsa di Kelas

Tunas muda merupakan salah satu aset bangsa yang sangat berharga. Bakat-bakat yang luar biasa dan pikiran yang penuh dengan kreatifitas sangat berpotensi untuk membangun perubahan bangsa menjadi lebih baik. Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, dan Kesetiakawanan Sosial melalui kegiatan Santiaji Karakter Bangsa berusaha untuk menanamkan nilai-nilai Kepahlawanan, Keperintisan dan Kesetiakawanan Sosial dalam bingkai wawasan kebangsaan, maksud kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan dan mengingatkan kembali proses pembentukan NKRI dan semangat yang melingkupinya.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi, yaitu di Pondok Asri Hotel Selabintana, Jl. Selabintana KM. 7 Sukabumi Jawa Barat dan di Kabupaten Serangi, yaitu di Villa Marina Anyer, KM. 20 Desa Cikoneng, Kabupaten Serang – Provinsi Banten. Kegiatan Santiaji Karakter Bangsa ini masing-masing diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari 5 desa yang berbeda. Materi kegiatan ini antara lain tentang tonggak sejarah bangsa Indonesia, Revolusi Mental Karakter Bangsa, Perspektif Kesetiakawanan Sosial, Skill Membentuk Kepekaan Sosial untuk Kewaspadaan Nasional dan dilanjutkan dengan materi penanaman nilai kebangsaan melalui media pembelajaran dalam dan luar kelas.

Pembelajaran dalam kelas dimaksudkan sebagai pondasi dasar pengetahuan generasi muda dalam membentuk kerangka berfikir tentang nilai-nilai dan karakter bangsa. Pemahaman tersebut kemudian di simulasikan melalui permainan lapangan yang membentuk kerjasama, kekompakan, tanggung jawab, kepedulian, dan rasa saling percaya.Pengkondisian 2 metode ini untuk membawa proses pembentukan perasaan yang sama, proses dialog untuk menyelesaikan masalah. Proses pembentukan komitmen berjalan seiring proses pembelajaran. Proses yang terjadi kemudian dikembangkan melalui serangkaian diskusi untuk membuka kesadaran akan potensi peran yang dapat dilakukan oleh peserta sebagai individu maupun sebagai jaringan.

IMG_20150822_091638

Kegiatan Peserta Santiaji Karakter Bangsa di Luar Kelas

Generasi muda dibekali keterampilan untuk menggali nilai-nilai dasar pembentuk paham kebangsaan (nasionalisme). Kegiatan ini memberikan pemahaman bahwa esensi dari nilai kepahlawanan adalah pengorbanan, keperintisan adalah patriotrisme – militansi, dan  kesetiakawanan sosial adalah kepekaan (sense of). Melalui serangkaian pola pembelajaran, generasi muda dibawa untuk menyadari bahwa esensi nilai ini yang kemudian dikembangkan dari perasaan yang bersifat individual menjadi perasaan komunal (terjadi kohesi sosial). Nilai inilah yang ditransformasikan menjadi karakter bangsa Indonesia. Semangat ini kemudian didorong ke arah semangat pembaharu akan perubahan yang lebih baik. Pada akhir kegiatan, pengetahuan akan semangat perubahan diaplikasikan pada suatu rencana kerja.

Rencana kerja ini merupakan pengembangan dari  Metode Participatory Assesment dan Kertas Kerja. Kedua metode tersebut digabungkan sehingga menjadi sebuah rencana kerja yang disesuaikan dengan masalah yang ada disetiap desa. Peserta dikelompokan dalam masing-masing desa, kemudian mendiskusikan masalah, faktor penyebab, hingga langkah pemecahan masalah. Kemudian perwakilan dari setiap desa menganalisis hasil kerja desa lain. Dengan demikian, diharapkan akan muncul suatu kesadaran tentang masalah dan cara mengatasinya. Efek turunan dari kegiatan tersebut adalah munculnya kekrtitisan mengenai langkah nyata untuk menjadi individu yang solutif, yaitu munculnya generasi muda yang tidak hanya mampu mengkritisi namun juga mampu memberikan solusi dalam sebuah langkah nyata yang pasti di wilayah Sukabumi – Jawa Barat dan di Serang-Banten.

Salam Kesetiakawanan Sosial.

Share Ke ...Share on Google+Tweet about this on TwitterShare on FacebookPin on PinterestPrint this pageEmail this to someone

KEMAH KEBANGSAAN TAHUN 2015

IMG_3475

Peserta Kemah Kebangsaan Tahun 2015

 

Kemah Kebangsaan diadakan di Bumi Perkemahan Coban Rondo, Malang-Jawa Timur pada tanggal 19 s/d 22 Mei 2015 dengan diikuti 250 peserta terdiri dari unsur pelajar, mahasiswa, pramuka, karang taruna, tagana dan santri di wilayah Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Blitar,Kabupaten Kediri, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kota Malang,   Kota Batu, Kabupaten Jombang, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Mojokerto, dan Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh di Malang.

Ibu Menteri Sosial RI membuka acara Kemah Kebangsaan

Kemah Kebangsaan dibuka secara resmi oleh Ibu Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansa pada tanggal 19 Mei 2015 pukul 21.00 WIB di Bumi Perkemahan Coban Rondo dengan dihadiri Staf Ahli Menteri Sosial, para Pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kementerian Sosial, Para Bupati /Walikota/Kepala Dinas Sosial di Provinsi Jawa Timur dan diikuti 350 peserta (250 peserta Kemah dan 100 orang peserta Nation Character Building).

Kemah Kebangsaan ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan di kalangan generasi muda agar lebih kuat dan tangguh untuk menangkal berbagai infiltrasi negatif, dimana disadari saat ini banyak pengaruh yang masuk yang kalau tidak disikapi dengan hati-hati akan membawa dampak bagi generasi muda saat ini, seperti pengaruh narkoba, pornografi, pengaruh ISIS dan sebagainya.

Materi Kemah Kebangsaan selain disampaikan oleh narasumber seperti Moreno Suprapto (Anggota DPR RI), Bambang Sulistomo (Putera Pahlawan Nasional Bung Tomo), juga oleh para instruktur melalui game atau permainan di alam terbuka.

Share Ke ...Share on Google+Tweet about this on TwitterShare on FacebookPin on PinterestPrint this pageEmail this to someone

BABAK BARU IMPLEMENTASI REVOLUSI MENTAL KARAKTER BANGSA MENUJU RESTORASI SOSIAL YANG BERBASIS KESETIAKAWANAN SOSIAL UNTUK INDONESIA SEJAHTERA

Kementerian Sosial pada 7 Mei 2015 menyelenggarakan kegiatan Seminar Kesetiakawanan Sosial dengan tema : “Revolusi Mental Karakter Bangsa dari Perspektif Kesetiakawanan Sosial Menuju Restorasi Sosial Indonesia.”

Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut antara lain : Dr. Saleh Partaonan Daulay, M.Ag., M.Hum.,M.A. (Ketua Komisi VIII DPR-RI), Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, (Akademisi), dan Yudi Latief, P.h.D.(Ketua Harian Pusat Studi Pancasila, Universitas Pancasila).

Revolusi memiliki makna sebagai perubahan yg cukup mendasar dalam suatu bidang. Pada masa perang kemerdekaan, para Pahlawan kita telah berjuang keras untuk lepas dari pasungan tak kasat mata berupa mental rakyat terjajah, mereka melakukan revolusi untuk memutus mata rantai mental budak yang membelenggu, menegakkan rasa percaya diri dan martabat sebagai Bangsa yang Merdeka.

Pada masa kini, belenggu tak kasat mata tersebut masih melingkupi Bangsa ini dan sudah mencapai tahap yang akut seperti mental priyayi, mental orang miskin, mental gelandangan pengemis, mental individualis dsb., sehingga Pemerintah memandang perlu untuk melakukan Revolusi Mental, dan ini menjadi permasalahan kita bersama.

Revolusi adalah sebuah proses yang perlu dipersiapkan. Kementerian Sosial telah mengawali proses ini sebagai langkah persiapan jalannya revolusi.

Mental bertautan dengan batin dan karakter manusia. Kesetiakawanan Sosial merupakan karakter unggul bangsa Indonesia (Bernilai). Hakikat revolusi mental adalah “mengembangkan nilai-nilai”.

Kegiatan yang laksanakan ini merupakan upaya untuk membumikan Nilai-nilai Kesetiakawanan Sosial, dari nilai-nilai ideal menjadi nilai-nilai aktual yang mudah untuk di implementasi dalam kehidupan sehari-hari dan dapat direplikasi ke dalam bentuk-bentuk aksi-aksi nyata yang bermanfaat bagi Masyarakat.

Restorasi bermakna pengembalian atau pemulihan kepada keadaan semula. Kesetiakawanan sebagai modal sosial sudah ada ditengah kehidupan masyarakat Indonesia, modal sosial ini bersifat dinamis sehingga perlu secara terus menerus dirawat, dijaga, dipupuk, dan didayagunakan, sehingga proses degradasi terhadap modal sosial kesetiakawanan yang menjadi penyebab munculnya kesenjangan (gap) dalam kehidupan sosial kemasyIMG_1871arakatan dapat kita cegah sejak dari hulu.

Masih menjadi bagian dari kegiatan tersebut sekaligus telah ditandatangani MOU tentang Pengembangan Model Desa Sejahtera Mandiri, antara Kementerian Sosial RI dengan 14 Perguruan Tinggi.

Program membangun Desa Sejahtera Mandiri adalah juga merupakan wujud implementasi nilai-nilai dasar Kesetiakawanan Sosial. Semangat dalam membangun Desa Sejahtera Mandiri menggunakan prinsip-prinsip dari spirit nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang berakar dan tumbuh dari kearifan lokal, budaya masyarakat.

MOU ini dimaksudkan untuk memberikan penguatan akademis sekaligus memberikan ruang seluas-luasnya kepada para mahasiswa dan akademisi terjun langsung dalam laboratorium pengabdian masyarakat untuk menerapkan wawasan keilmuannya dalam aksi-aksi nyata di Masyarakat.

Langkah yang ditempuh oleh Kementerian Sosial pada hari ini merupakan tonggak baru dalam membumikan Kesetiakawanan Sosial agar mudah di implementasi menjadi gerakan bersama dan memberikan faedah seluas-luasnya bagi masyarakat.

Share Ke ...Share on Google+Tweet about this on TwitterShare on FacebookPin on PinterestPrint this pageEmail this to someone

PEMBENTUKAN SATUAN TUGAS KESETIAKAWANAN SOSIAL MELALUI KEGIATAN NATION CHARACTER BUILDING KESETIAKAWANAN SOSIAL DI MALANG – JAWA TIMUR

_DSC0088

 

Tunas muda merupakan salah satu asset bangsa yang sangat berharga. Bakat-bakat yang luar biasa dan pikiran yang penuh dengan kreatifitas sangat berpotensi untuk membangun perubahan bangsa menjadi lebih baik. Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, dan Kesetiakawanan Sosial melalui kegiatan Pembangunan Karakter Bangsa dengan penanaman nilai K2KS dan wawasan kebangsaan bermaksud untuk memperkenalkan dan mengingatkan kembali proses pembentukan NKRI dan semangat yang melingkupinya.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Malang Raya, yaitu di di Grand Pujon View Hotel, Malang. Kegiatan Pembentukan Karakter Bangsa ini diikuti oleh 100 peserta yang berasal dari 10 desa/kelurahan yang berbeda. Materi kegiatan ini antara lain tentang tonggak sejarah bangsa Indonesia, Revolusi Mental Karakter Bangsa, Perspektif Kesetiakawanan Sosial dan dilanjutkan dengan materi penanaman nilai kebangsaan melalui media pembelajaran dalam dan luar kelas.

Pembelajaran dalam kelas dimaksudkan sebagai pondasi dasar pengetahuan generasi muda Malang raya dalam membentuk kerangka berfikir tentang nilai-nilai dan karakter bangsa. Pemahaman tersebut kemudian di simulasikan melalui permainan lapangan yang membentuk kerjasama, kekompakan, tanggung jawab, kepedulian, dan rasa saling percaya.Pengkondisian 2 metode ini untuk membawa proses pembentukan perasaan yang sama, proses dialog untuk menyelesaikan masalah. Proses pembentukan komitmen berjalan seiring proses pembelajaran. Proses yang terjadi kemudian dikembangkan melalui serangkaian diskusi untuk membuka kesadaran akan potensi peran yang dapat dilakukan oleh peserta sebagai individu maupun sebagai jaringan.

Generasi muda Malang Raya dibekali keterampilan untuk menggali nilai-nilai dasar pembentuk paham kebangsaan (nasionalisme). Kegiatan ini memberikan pemahaman bahwa esensi dari nilai kepahlawanan adalah pengorbanan, keperintisan adalah patriotrisme – militansi, dan  kesetiakawanan sosial adalah kepekaan (sense of). Melalui serangkaian pola pembelajaran, generasi muda menyadari bahwa esensi nilai ini yang kemudian dikembangkan dalam perasaan yang bersifat menjadi komunal (kohesi sosial). Nilai inilah yang ditransformasikan menjadi karakter bangsa Indonesia. Semangat ini kemudian didorong ke arah semangat pembaharu akan perubahan yang lebih baik. Pada akhir kegiatan, pengetahuan ak_DSC0178an semangat perubahan diaplikasikan pada suatu rencana kerja.

Rencana kerja ini merupakan pengembangan dari  Metode Participatory Assesment dan Kertas Kerja. Kedua metode tersebut digabungkan sehingga menjadi sebuah rencana kerja yang disesuaikan dengan masalah yang ada disetiap desa/kelurahan. Peserta dikelompokan dalam masing-masing desa/kelurahan, kemudian mendiskusikan masalah, faktor penyebab, hingga langkah pemecahan masalah. Kemudian perwakilan dari setiap desa menganalisis hasil kerja desa lain. Dengan demikian, diharapkan akan muncul suatu kesadaran tentang masalah dan cara mengatasinya. Efek turunan dari kegiatan tersebut adalah munculnya kekrtitisan mengenai langkah nyata untuk menjadi individu yang solutif, yaitu munculnya generasi muda yang tidak hanya mampu mengkritisi namun juga mampu memberikan solusi dalam sebuah langkah nyata yang pasti di wilayah Malang – Jawa Timur.

Salam Kesetiakawanan Sosial.

Share Ke ...Share on Google+Tweet about this on TwitterShare on FacebookPin on PinterestPrint this pageEmail this to someone
Page 4 of 8« First...23456...Last »